Selasa, 04 Februari 2014

Asmirandah dan Hak Murtad Warga Negara




Minggu-minggu ini jagat infotainment diguncang kabar pindah agamanya (murtad) seorang selebritis muslimah. Alasanya klasik, karena pernikahan dengan pria beda agama ia pun meninggalkan Islam. Padahal sang artis beberapa kali diberitakan sering berkerudung dan tampil dalam film dan sinetron religi. Pantas bila kabar ini cukup menggegerkan.
religious-freedom-L-CYCfBABanyak yang kecewa dan marah, tapi apa mau dikata dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia murtad adalah hak setiap warga negara. Bukankah dalam pasal 29 UUD 1945 disebutkan:
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Di sana sama sekali tidak dicantumkan larangan berpindah agama. Bahkan sekalipun secara formal negeri ini hanya mengakui secara resmi 5 agama, namun tidak ada sanksi apapun bagi siapa saja memilih selain 5 agama tersebut. Termasuk tidak ada larangan bagi seorang muslim menjadi penganut Ahmadiyah sekalipun.
Beginilah cara demokrasi memperlakukan hak beragama para penganutnya. Agama menjadi sesuatu yang amat personal. Sang artis pun tahu hal itu. Maka ia katakan kepada media, “Iman adalah urusan saya dengan Tuhan.”  Beragama tidak perlu bahkan tidak boleh diatur oleh negara. Beragama adalah hubungan yang amat privasi antara seseorang dengan ‘tuhan’nya. Tak ada seorangpun diperbolehkan secara hukum mengusik ketaatan atau ketidaktaatan seseorang pada agamanya. Kemurtadan seorang warga negara pun tak boleh diperkarakan. Itu adalah hak yang dijamin secara de jure.
Dalam demokrasi liberal kehidupan beragama malah lebih ‘brutal’ lagi. Selain boleh berpindah-pindah agama, warga juga diperbolehkan tidak beragama. Menjadi seorang agnostik atau ateis sekalipun sah secara hukum. Atau mau membuat agama baru sekaligus menjadi tuhan dan nabinya juga tak ada masalah. Di AS diperkirakan ada sekitar 3 ribu sampai 5 ribu sekte (cult) berkembang. Setiap tahunnya diperkirakan mereka merekrut 180 ribu anggota. Sedangkan di Jepang pemerintahnya memperkirakan ada sekitar 200 ribu sekte dianut warganya diluar agama formal.
Semenjak kelahirannya demokrasi memang telah dirancang untuk tidak banyak mencampuri urusan agama warganya. Apapun, apakah Kristen ataupun Islam dan yang lainnya. Trauma sejarah yang panjang di Eropa akibat penindasan yang dilakukan tokoh-tokoh agama yang berkonspirasi dengan para raja membuat para filsuf dan politisi Eropa berpikir untuk mencari sistem alternatif dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Sistem ini harus bebas dari campur tangan agama dan para raja. Untuk menghilangkan peran agama maka digagaslah sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, sedangkan untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan para raja dibuatlah sistem demokrasi.
Keduanya saling berkelindan. Sekulerisme adalah asasnya sedangkan demokrasi adalah bangunannya. Tidak mungkin menegakkan demokrasi tanpa sekulerisme. Karena demokrasi berarti menyerahkan hukum kepada manusia (people), bukan kepada Tuhan. Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Andaipun ada agama, maka negara hanya sebagai regulator. Sekedar menata tapi tidak akan pernah memaksa atau melarang.
Sebab itu jangan pernah berharap demokrasi akan menjaga kemuliaan agama Islam. Ia justru menistakannya. Aliran sesat seperti Ahmadiyah tetap berkembang, kemurtadan pun diizinkan. Demokrasi memang ‘surga’ bagi orang-orang fasik dan zindiq. Pantas bila dikatakan demokrasi bertentangan secara nyata, diametral dan langsung bertentangan dengan ajaran Islam. Memperjuangkan demokrasi berarti harus rela melihat Islam dinistakan.
Satu-satunya jalan untuk menjaga kemuliaan Islam adalah dengan memberlakukan syariat Islam. Tak ada lagi yang bisa melindungi akidah umat kecuali dengan menjalankan hukum-hukum Allah. Selain Islam, tak akan bisa. [http://www.iwanjanuar.com//www.globalmuslim.web.id]

Kepada Seluruh Pemuda (To All Syabab)


PERJALANAN HIDUP ANDA
Masa Lalu Anda….
Masih ingatkah sewaktu kita masih kecil, lemah tidak bisa berbuata apa-apa. Setelah fungsi organ-organ tubuh mulai berkembang, kita belajar berjalan, lidah mulai menirukan berbagai bunyi dan suara-suara. Setelah semua organ sudah sampai pada puncak perkembangannya, kitapun bisa berlari berteriak sesuai kemauan kita…
Saat dulu duduk di bangku SD, guru kita bertanya tentang cita-cita dan keinginan kita di masa depan, mulailah kita berandai- andai dan berkhayal menjadi guru, dosen, pilot, direktur dan sebagainya. Meski hanya sebatas khayalan kosong tanpa ambisi dan kemauan yang kuat… saat itu.
Anda Saat Ini
Ketika memasuki usia 19 / 20 tahun, pergaulan kita semakin luas, teman semakin banyak. Menawarkan berbagai macam watak dan warna kepribadian. Secara sadar ataupun tidak kita terpengaruh oleh mereka dalam menentukan mana yang baik dan menyenangkan, juga sebaliknya. Ketika itu kita mungkin melihat betapa enaknya menjadi kaya, punya uang banyak, bisa bepergian ke luar negeri atau ke manapun kita mau, punya kendaraan mewah, pakaian necis dangan bahan yang mahal, dll.
Kemauan-kemauan itu mendorong kita untuk belajar (dengan tujuan agar bisa bekerja) atau bekerja untuk menjadi orang kaya. Kita mulai berusaha mencari pekerjaan dan memulai kehidupan mandiri yang tidak bergantung kepada kedua orang tua.
Masa Depan Anda?
Memasuki usia 25 tahun, ketika melihat seseorang yang mempunyai isteri  cantik, kita pun ingin punya isteri yang lebih cantik darinya. Kemudian kita menemukannya, dan kita berjuang sekuat tenaga. Meski gagal kita terus berjuang dan akhirnya berhasil. Setelah menikah kita ajak jalan-jalan, kemudian kita lihat ada villa yang indah. Kita ingin membahagiakannya dengan villa itu.
Kita bekerja lebih giat lagi, bahkan hampir-hampir kita tidak punya waktu untuk istirahat. Akhirnya diumur 45 tahun villa tersebut kita miliki.
Apa artinya villa mewah jika kendaraan yang dinaiki kendaraan kelas menengah bawah? Untuk itu kita bekerja lebih giat lagi, isteri dan anak kita pun jadi jarang lihat kita.
Kita terus mengejar…. Sampai kapan?
Renungkan Jalan Hidup Kita…
Apakah demikian itulah hidup yang akan kita jalani?
Apakah Allah menciptakan kita untuk memperoleh itu semua?
Apakah pekerjaan, isteri yang cantik, villa mewah, mobil mewah, semua itukah yang kita cari dalam hidup ini?
UJUNG PERJALANAN KITA
Ujung dari semua itu Akhirnya “KEMATIAN” menjemput kita, dan semua yang ada tadi menjadi tak berguna lagi.
Mengapa kematian “memaksa” kita berpisah dengan semuanya itu?
Bisakah kita kendalikan agar kita tidak MATI?
Mengapa kita tidak bisa menghindari kematian? Apalagi mengendalikannya?
JIKA KEHIDUPAN HARUS BERAKHIR DENGAN KEMATIAN LALU UNTUK APA KITA HIDUP?
Seseorang tidak bisa mengendalikan sesuatu, jika ia tidak memliki kekuatan dan kemampuan atau dia tidak memiliki otoritas untuk itu.
Contonya: Seorang karyawan tidak bisa mengendalikan berapa gajinya dari sebuah perusahaan. Gajinya ditentukan oleh Direktur perusahaan.
Sama halnya dengan kehidupan. Manusia tidak mampu mengendalikan kehidupan dan kematiannya.
Mereka hanya bisa menjalani kehidupan tersebut dengan pilihan-pilihan jalan hidupnya.
Kedua hal itu dikendalikan oleh Dzat yang MAHA KUAT MAHA PERKASA. Dialah ALLAH, Tuhan yang menciptakan dan mengendalikan Alam Semesta.
Allah ibarat “Direktur” sekaligus “Owner”= Direktur dan Owner Kehidupan. Dan manusia hanyalah karyawannya.
Karyawan yang bekerja sesuai ketentuan yang ditetapkan. Dan menerima “gaji” sesuai yang ditetapkan “Direktur” kehidupan.
Sang “Direktur” lah yang mengerti visi, misi dan tujuan “perusahaan” kehidupan yang dikendalikan-Nya.
Manusia sebagai karyawan, harus mengetahui dan menaati visi, misi, dan tujuan “perusahaan” itu agar bisa professional. Bila tidak, maka sang Direktur akan memecatnya menjadi karyawan karena hanya akan mengahambat tercapainya tujuan perusahaan.
Di “Perusahaan” ada 3 tipe “Karyawan”
Kelompok I; mereka yang menyelaraskan tujuan dan aktivitas hidupnya sesuai dengan visi dan aturan perusahaan.
Kelompok II; mereka yang tidak menyelaraskan tujuan dan alur kehidupannya sesuai tatacara yang telah ditetapkan oleh perusahaan
Kelompok III; mereka yang mengetahui alur skenario dan tujuan yang telah ditetapkan oleh “Direktur” perusahaan, tetapi dalam prakteknya mereka tidak peduli dan memilih golongan kedua sebagai teman.
Sifat masing-masing kelompok
Kelompok I, mereka mengatur langkah2 hidupnya dan menaati rambu-rambu Ilahi. Meski berat dan sulit, tetapi mereka menikmati dan menurutinya dengan ikhlas dan sabar, sehingga sesuai dengan keinginan sang Direktur. Iniliah golongan orang-orang yang selamat dan memperoleh naungan dari Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak merasa sedih dan tidak merasa takut, karena mereka yakin Allah akan menjadi penolong mereka di dunia dan di akhirat. (lihat QS. Fussilat [41]: (30-32)
Kelompok II, mereka sepenunhya “BEBAS” dan tidak mau mematuhi rambu-rambu Ilahi. Mereka menentukan sendiri tujuan hidupnya yang berbeda dengan tujuan yang Allah tentukan, dan menjalani kehidupan sesuai dengan hasrat dan dorongan kemauan mereka sendiri. Inilah golongan yang kafir tidak beriman kepada Allah dan tidak berusaha mencari kebenaran yang sejati. Mereka tidak peduli meski diberikan peringatan, mereka punya telinga tapi tidak mampu mendengar, mereka punya mata namun tak mampu melihat, bahkan mereka punya hati (akal budi) tapi tak mau memahami.
Kelompok III, inilah kelompok yang paling ironis, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya telah menerima kebenaran, hanya tinggal menyeleraskannya dengan jalan hidup yang diambilnya untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh Allah. Akan tetapi mereka mengabaikannya dan mengambil tujuan-tujuan yang bersifat hanya mememuhi kebutuhan-kebutuhan sementara dan tidak kekal.
Dari sisi identitas batiniah, mereka tidak masuk dalam golongan pertama atau kedua. Meski di atas kertas mereka muslim, tetapi mereka lebih akrab dengan kaum yang di murkai Allah SWT. Golongan ini dijelaskan oleh Allah: dalam al-Mujaadillah [58]: 14) dan (an-Nisaa [4]:143.
Renungan
Janganlah terbuai fasilitas sehingga lupa akan tujuan…
Perumpamaan kehidupan di dunia ibarat seseorang yang pergi pasar dengan tujuan membeli al-Qur’an. Melintasi toko pakaian, mampir. Melintasi toko asesoris handphone, mampir (sarung HP tidak terlalu mahal kok, cuman beli satu aja). Akhirnya sesampai di toko al-Qur’an uangnya sudah tidak cukup lagi. Kedua barang itu telah melalaikannya dari tujuan semula, membeli al-Qur’an.
Betapa banyak manusia yang demikian? Padahal waktu mereka datang ke dunia, mereka telah memiliki rencana dan tujuan yang pasti (al-A’raaf [7]: 172) dan adz-Dzariyaat [51]: 56)
Untuk mencapai tujuan itu, Allah swt. Memberikan banyak fasilitas kehidupan untuk manusia, berupa harta, kehormatan, kecerdasan, popularitas, jabatan, pangkat, anak, isteri dan lain sebagainya. Semua itu sangat menggoda untuk dimiliki. Meski fungsi utamanya hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang jauh lebih besar dan abadi.
Namun banyak yang tertipu dan disibukkan oleh fasilitas dan sarana itu, sehingga melupakan tujuan yang sesungguhnya. (al-Anfaal [8]: 28).
Bagaimana agar kita bisa menggunakan berbagai fasilitas tersebut untuk mencapai tujuan? Pada poin inilah kita wajib mengetahui semua rambu-rambu Allah swt.
Dan satu-satunya jalan untuk itu adalah dengan belajar dan mengaji kepada mereka yang mengetahui rambu-rambu tersebut. (An Nahl [16]: 43)
“Seseorang itu sesuai dengan agama temannya. Karena itu, hendaklah siapapun dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bergaul dengan teman dan lingkungan yang shaleh dan bertujuan sama sesuai ketetapan Allah akan membuat kita mampu mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itulah kami mengajak kepada para pemuda untuk bersama-sama mengisi masa muda kita dengan selalu dekat kepada Allah melalui pergaulan kita kepada orang-orang yang berilmu (ulama), sungguh mereka adalah cahaya. Belajarlah tentang agama ini kepada mereka. Halaqohlah (belajar intensif) agar pemahaman menjadi benar dan kuat.
Semoga Allah meridhai langkah kita..

HANYA 1 Menit 52 Detik


7
Kepada mereka yang peduli akan umurnya
Masih ingat apa yang dikatakan Einsten tentang hukum relativitas? Orang yang berada di luar pesawat akan melihat pesawat terbang begitu cepat, tapi mereka yang berada di dalam pesawat dengan santainya duduk, makan, minum dan berjalan-jalan tanpa merasa terganggu dengan kecepatan tersebut. Tahukan jika bumi kita berputar (berotasi) dengan kecepatan 1.600km/jam, tapi kita sama sekali tak terpengaruh dengan kecepatan itu, yang kita ketahui hanya perputaran waktu 24 jam sehari. Membicarakan tentang waktu. Sebenarnya juga sangatlah relatif bagi kita. Bergantung kepada apa kita membandingkannya.
Berapa lama sesungguhnya kita tinggal di bumi ini? Jawabannya relatif juga. Kalau pakai ‘rasa’nya maka baru kemarin rasanya kita hidup di bumi. Kalau dihitung sejak lahir mungkin 20 atau 30 tahun kita hidup sekarang. Kalau kita hidup hanya sampai usia 65 tahun hakikinya berapa lama sih kita hidup di dunia?
Sebagai seorang mukmin, tentu kita beriman kepada Al-Qur’an. Tentu juga kita beriman kepada hari akhir, hari berbangkit dimana seluruh umat manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar. Berapa lama waktu di sana nanti? Dan berapa lama waktu kita hidup di dunia jika di bandingkan dengan waktu saat itu?
Allah SWT berfirman (artinya): “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (An Nazi’at: 46)
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu Sesungguhnya mengetahui” (al-Mu’minuun: 112-114)
Kalau begitu berapa lama ukuran waktu sebentar kita itu?
Rasulullah SAW bersabda: Bagaimana keadaan kalian jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? (HR Hakim dan Thabrani).
Padang mahsyar, hari pengadilan, dimana manusia menunggu untuk diadili dalam Pengadilan Yang Maha Adil. Bagaimana kondisi padang mahsyar itu? Di mana kita harus menunggu selama 50.000 tahun? Sejuk kah? nyaman kah?
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya matahari mendekat kepada manusia pada Hari Kiamat. Jarak dari mereka hanya satu mil. Ketika itu mereka dikenali sesuai amal masing – masing.” ( HR.Bukhari )
Apakah kita akan selamat dari hawa panas di Padang Mahsyar? Yang pasti, kita semua akan merasakan kepanasan dan kegerahan menunggu giliran di – Hisab. ( Ingat – ingatlah keadaan ini saat kita sedang kena kipas angin atau merasa sejuk di ruangan berAC )
Rasulullah SAW. bersabda, “Banyaknya keringat manusia berdasarkan amal – amalnya. Di antara mereka ada yang keringatnya mencapai kedua mata kakinya, ada yang mencapai kedua lututnya. Dan di antara mereka ada yang keringatnya mencapai pinggangnya. Dan di antara mereka ada yang sampai meminum keringatnya sendiri.” (Nabi memberi isyarat dengan memasukkan tangannya ke dalam mulut ). ( HR.Muslim )
MasyaAllah, Naudzubillahi min dzalikka

Hadits di atas berhubungan dengan keadaan kita nanti di padang mahsyar, kata nabi Muhammad, kita berada di padang mahsyar selama 50ribu tahun yang sama nilainya dengan 50 milenium sama dengan  500 abad  sama dengan 6250 windu. Aduhai seberapakah lamanya waktu itu?
Allah SWT Berfirman (artinya): “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.“ (al-Ma’aarij [70]: 4)
Para mufasir menjelaskan maksud ayat di atas: malaikat-malaikat dan Jibril jika menghadap Tuhan memakan waktu satu hari. Apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu limapuluh ribu tahun. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Jika kita korelasikan hadits tersebut dengan ayat di bawahnya, kita akan menemukan suatu angka yang sangat fantastis tentang lamanya kita hidup di dunia ini.
Mari coba kita hitung. Kalau umur kita rata-rata 65 tahun, Rasulullah Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Maka, perantauan kita di dunia ini jika dibandingkan dengan waktu di padang mahsyar hanya akan terasa 1 MENIT 52 DETIK.
Mari berpikir sesaat dan merenung. Maukah anda mengantri dengan sabar selama 1 hari untuk mendapatkan sebuah mobil mewah. Anda hanya mengantri dengan sabar dan tidak boleh melanggar aturan antrian anda, maka anda PASTI akan mendapatkan mobil mewah itu. Bahkan Anda tidak perlu bayar untuk itu. Hanya tunggu sampai kepada giliran Anda? Maukah Anda?
Jika mobil mewah itu tidak terlalu berharga bagi Anda? Apa di dunia ini yang paling berharga bagi Anda? Maukah anda menunggu 1 hari untuk memperolehnya?
Apa yang Anda anggap paling berharga itu, jika dibandingkan dengan nikmat Akhirat, maka yang paling berharga di dunia ini tidak adalah nilainya kecuali hanya seujung kuku saja.
Rasulullah SAW bersabda:
Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?(HR Muslim).
Maukah kita bersabar hanya 1 menit 52 detik untuk memperoleh kenikmatan yang tiada tara di akhirat kelak. Apalah artinya pengorbanan kita di dunia ini, seberat apapun. Wong hanya 1 menit 52 detik saja kok kita berkorban. Apalah artinya persoalan hidup kita di dunia ini yang terasa berat bagi kita. Kan kita hanya akan merasakannya 1 menit 52 detik saja. Mau kah kita bersabar dan istiqomah dalam ketaatan kepada Allah dalam rentang waktu itu? Apalah arti beratnya perjuangan untuk Islam di dunia ini, Karena kita hanya berjuang 1 menit 52 detik saja. Apalah susahnya berbuat taat dan baik di dunia ini, kalau Cuma 1 menit 52 detik saja.
Wahai diri, wahai sahabat semua…
Jangan sampai diri kita menyesal nanti di padang mahsyar, di pengadilan-Nya Allah SWT. Jangan sampai Menjadi mereka yang lalai kepada Allah dengan melalaikan taat kepada-Nya. Akan menyatakan penyesalannya dan berharap dikembalikan ke dunia. Padahal sudah tidak ada lagi kesempatan kedua bagi kita semua.
Allah SWT Berfirman (artinya):
Dan, jika Sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah:12)
Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?“(Ibrahim:44)
Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa`at yang akan memberi syafa`at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.” ( Al-A’raf:53)
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Fathir: 29)
Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah dikuasai oleh kejahatan Kami, dan adalah Kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami daripadanya (dan kembalikanlah Kami ke dunia), Maka jika Kami kembali (juga kepada kekafiran), Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim.”
Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan aku. Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba- Ku berdoa (di dunia): “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka ampunilah Kami dan berilah Kami rahmat dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka,” (Al-Mu’minun:105-110)
Maka benarlah pada hari yang dijanjikan itu, manusia-manusia yang ingkar terhadap Robb nya akan diliputi penyesalan yang mendalam, penyesalan karena waktunya (yang sangat singkat) hanya dipakai untuk hal-hal yang sia-sia, penyesalan karena waktunya (yang sangat singkat) hanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, penyesalan karena waktunya (yang sangat singkat) hanya dimanfaatkan untuk melakukan maksiat dan dosa.
Mereka pun mengandaikan bisa kembali ke dunia, namun sayang, penyesalan tinggal penyesalan. Maka tenggelamlah mereka oleh keringatnya sendiri, karena malu dan takutnya mereka dan semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang menyesal tersebut.
Namun saat itu ada juga yang dinaungi awan kasih sayang oleh Robb, kita paham bahwa pada saat itu matahari hanya sejengkal di atas kepala. Merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk memperjuangkan agama Robb nya. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat buat diri dan sesama. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk senantiasa beribadah kepada Ilah nya. Mereka pun puas akan apa yang dilakukannya. Tidak sia-sia setiap tetes keringat dan tiap tetes darah yang mereka keluarkan demi kemuliaan agama ini. Tidak sia-sia mereka menahan gejolak mengumbar aurat dan berjuang menahan panas memakai jilbab bagi wanita. Tidak sia-sia mereka menahan setiap sentuhan, pandangan, pendengaran dari yang tak semestinya dilakukan. Benar, tidak akan sia-sia setiap amal kebaikan kita. Itulah hidup kita sahabatku, hanya sebentar. Tidak lah sia-sia mereka menolong agama Allah dengan berjuang atas  tegaknya syariah dan khilafah. Karena mereka berjuang dan bersabar tidak lama kecuali hanya 1 menit 52 detik.
Mereka lah orang-orang yang beriman dan istiqomah dengan keimanan dan ketaatannya kepada Allah Yang Maha Pemurah.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah (surga)  yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat [41]: 30)
Dan agama ini sudah sempurna. Baik dan buruk, halal dan haram sudah ditetapkan dengan jelas. Setiap aturan kehidupan mulai dari pergaulan, ekonomi, tatacara politik, pendidikan, sosial, hukum, dan ibadah sudah paripurna. Semua kembali kepada kita, maukah memakainya atau kita tetap dengan keadaan sekarang. Keadaan yang jauh dari  nilai-nilai Islam.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (al-Hasyr [59] : 18)
Ingatlah, saudaraku… kita hanyalah perantau, only a musafir…
Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekadar lewat (HR Bukhari)
Wallahu a’lam bi ash shawab.
Dari Saudaramu
Seorang musafir


The Masterpiece of You

Tulisan ini merupakan salah satu bab dari buku Longlife Motivation

The Masterpiece of You
(Karya Terbaik Anda)
“Anda saat ini adalah cerminan akumulasi dari aktivitas-aktivitas yang anda lakukan setiap hari”
~Fauzan al-Banjar~

Dengan seluruh potensi serta motivasi yang kita miliki. Tinggal kini bagaimana kita dapat memperoleh sebuah masterpiece (karya terbaik)  untuk dipersembahkan kepada Allah SWT dan kita wariskan kepada dunia.
Sebuah karya terbaik lahir dari proses aktivitas-aktivitas terbaik yang dilakukan setiap hari. Ibarat sebuah gedung yang megah dan kokoh tidak akan terbentuk jika tidak disusun dari material yang baik dan pengerjaan yang serius. Sebongkah batu besar tidak akan berlubang oleh setetes air. Batu besar dapat berlubang oleh jutaan tetes air yang fokus mengenai titik yang sama secara terus menerus. Anda saat ini adalah cerminan akumulasi dari setiap aktivitas yang telah anda lakukan setiap hari. dan Anda di masa yang akan datang adalah hasil dari apa yang Anda lakukan mulai saat ini. Oleh karenanya jangan remehkan setiap aktivitas Anda mulai hari ini. Raihlah selalu aktivitas terbaik di dalam kehidupan Anda.
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang melakukan amal terbaik dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.(TQS. Al-Mulk [67]: 1-2)
‘Amal yang terbaik (‘amal ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, yakni Fudhail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat ke-2 surat Al-Mulk di atas adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali: ‘Apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab:“Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah swt, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi saw.”
‘Amal ihsan adalah amal perbuatan yang dilakukan dengan niat ikhlas (semata-mata hanya karena Allah) disertai dengan kesesuaian amal perbuatan tersebut dengan hukum syariat Islam (shahihu al-‘amal).
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”(TQS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Hal ini juga dijelaskan melalui hadits baginda Nabi SAW;
إِنَّمَااْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَالِأمرِئٍ مَانَوَى
“Sesungguhnya (semua) perbuatan (amal) itu sangat bergantung (kesahihan dan kesempurnaannya) kepada niat”. Dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan sesuatu yang (sesuai) dengan niatnya…”(HR. Bukhari dan Muslim)
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَرَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak didasarkan pada ketentuan kami, maka ia tertolak”  (HR. Bukhari dan Muslim).
Aktivitas atau amal terbaik (‘amal ihsan)-lah  yang diinginkan oleh Allah SWT. ‘Amal ihsan adalah tuntutan dari Allah SWT. Maka bagi seorang muslim tuntutan Allah adalah motivasi bagi kehidupannya. Tuntutan Allah adalahquwwah ruhiyyah (spiritual motivation) bagi dirinya. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak dapat mencapai kualitas terbaik dari amalnya, yaitu Ikhlas dalam beramal dan melakukannya sesuai dengan aturan Allah SWT.
Ikhlas adalah amalan batin (kalbu). Tidak ada orang lain yang mengetahui kecuali Allah SWT. Amal ikhlas yang tertinggi adalah bukan sekedar tidakriya atau sum’ah.  Orang yang ikhlas (mukhlis) yang terbaik adalah orang yang tidak sekedar amalnya tidak dimaksudkan  untuk dilihat orang (riya’) atau ingin didengar orang (sum’ah). Lebih dari itu, ikhlas sesungguhnya mengandung konsekuensi melakukan ‘amal dengan kemampuan terbaik (paling maksimal).
Ketika ikhlas dalam beramal mengandung pengertian beramal semata-mata karena Allah, maka Anda harus benar-benar menunjukkan bahwa amal yang Anda lakukan semata-mata dipersembahkan hanya untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya. Pertanyaannya; Apakah sesuatu yang yang dipersembahkan hanya untuk Allah itu cukup yang biasa-biasa saja. Minimalis, dan terkesan asal-asalan? Ataukah sesuatu yang hendak dipersembahkan kepada Allah itu harus berkualitas istimewa, dan dengan upaya terbaik yang kita mampu?
Ketika seseorang mempersembahkan sesuatu khusus hanya (special) bagi orang yang dicintainya, tentu saja ia akan mempersembahkan yang terbaik dan teristimewa dengan seluruh kemampuan terbaiknya; bukan yang biasa-biasa saja, apalagi yang berkualitas buruk. Demikian pula seseorang yang ikhlas, ia mempersembahkan amalnya semata-mata hanya untuk Allah, Penciptanya. Ia hanya akan mempersembahkan amalan terbaik dan teristimewa untuk-Nya. Jadi, Ikhlas pada amal sesungguhnya harus berbuah menjadi amal yang terbaik (‘amal ihsan).
Amal yang ikhlas (أخلص ) mengandung makna;
(أ  ) Iman atau ‘itikad, artinya yakin akan pertemuan dengan Allah. Keyakinan terhadap pertemuannya dengan Allah membuat si empunya amal akan selalu bersunguh-sungguh dalam mengerjakan setiap aktivitas. Selain itu makna iman disini juga adalah meyakini bahwa perbuatan (‘amal) yang dilakukan adalah perbuatan yang benar.
خ )     Khushushan, artinya teristimewa; yang paling spesial. Seorangmukhlis memiliki orientasi pada kesempurnaan karya terbaiknya (masterpiece). Sebab perbuatan (‘amal) yang dilakukan akan dipersembahkan kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Istimewa.
ل )     La tay’asu, pantang berputus asa. Seorang mukhlis adalah orang yang pantang berputus asa, ia selalu mengerjakan perbuatan dengan penuh semangat dan memiliki etos kerja yang tinggi. Sebab ia memahami bahwa tidak ada sebuah maha karya (masterpiece) yang dapat diselesaikan dengan mudah. Sebuah masterpiece pastilah sesuatu yang membutuhkan pengorbanan dan perjuangan untuk dihasilkan.
ص )   Shafa, artinya jernih dan bersih. Sebuah persembahan yang teristimewa wajib tidak bercampur maksudnya kecuali hanya untuk Allah SWT. Sebab tidak masterpiece yang dibuat kecuali memiliki maksud khusus dan dipersembahkan kepada sesuatu yang khusus juga. Bersih dan jernihnya maksud dari seorang mukhlish akan menghantarkannya kepada apa yang hendak ia tuju yaitu Allah SWT.
Mencapai amal yang terbaik selain dengan ikhlas adalah juga harus melakukan amal tersebut sesuai dengan aturan dari Allah (shahihu al-‘amal).
Wajib shahih-nya amal sesunggunhya adalah sesuatu yang sudah maklum. Karena seseorang yang sedang mempersiapkan sebuah maha karya (masterpiece) yang hendak dipersembahkannya hanya kepada orang yang dicintai pasti akan mencari tahu apa yang paling diinginkan oleh orang yang dicintai tersebut. Apa yang tidak membuat kecewa orang yang dicintainya tersebut. Untuk itu, selain ikhlas seseorang yang hendak mempersembahkan masterpiece-nya kepada Allah harus mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh Allah. Allah SWT akan menolak semua amal meski ditujukan kepada-Nya tapi tidak dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan keinginan-Nya (aturan main Allah). Ibarat orang yang sedang melakukan lomba, maka sebuah kemenangan tidak akan dinilai apa-apa jika diperoleh dengan melanggar aturan yang sudah dibuat oleh pelaksana lomba.
Amal yang shahih (صح) mengandung makna;
(ص)     Sharih artinya jelas, tidak kabur, ada pada area hitam dan putih, tidak mendatangakan keragu-raguan (syubhat). ‘Amal ihsan adalah ‘amal yang wajib jelas dalam status perbuatannya dan juga status hukum syariatnya. Jelas status perbuatan adalah perbuatan yang memiliki maksud dan target tertentu. Sedangkan jelas dari sisi hukum syariat adalah perbuatan yang memiliki status hukum syariat tertentu apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Sehingga si empunya ‘amal memiliki keyakinan untuk mengerjakan atau meninggalkan perbuatan tersebut.
(ح)       Hasaba artinya adalah pertimbangan atau perhitungan. Setiap ‘amal bagi seorang muslim harus memperoleh pertimbangan keutamaan (awlawiyat) terlebih dahulu. Sebab ia memahami dengan waktu hidup yang singkat tidak mungkin ia memperoleh seluruh ‘amal. Oleh karena itu ia memiliki kriteria keutamaan dalam beramal. Sedapat mungkin semua yang wajib ia utamakan untuk ditunaikan. Kemudian menyusul memperbanyak yang sunnah. Lalu lebih banyak meninggalkan yang mubah. Dan sama sekali tidak ingin terjerumus kepada yang haram.
Walhasil, karya terbaik (masterpiece) lahir dari akumulasi amal-amal terbaik (‘amal ihsan). Amal terbaik baru dapat terwujud jika telah memenuhi syaratnya yaitu ikhlas dan shahih.
Masterpiece apa yang hendak Anda wariskan kepada dunia? Apapunmasterpiece Anda, semuanya akan benar-benar berbuah menjadi the realmasterpiece jika anda melakukannya dengan amal yang ihsan.

Konsep Perancangan Bisnis Syariah (Bisnis Super Ekselen)


MEI 19, 2012 BY ONLYMUSAFIR / http://onlymusafir.wordpress.com/


Untuk memperoleh suatu bisnis super ekselen maka harus diperhatikan dua syarat dalam perancangannya. Jika syarat ini tidak diperhatikan maka sesungguhnya ia sedang merencanakan kegagalan bisnisnya. Dua kaidah yang harus diikuti dalam merancang bisnis super ekselen adalah;


1.  Kaidah Do The Right Thing.


Aktivitas ini adalah suatu tindakan yang sangat menentukan kesuksesan puncak suatu bisnis dalam perspektif syariah. Aktivitas pemilihan jenis bisnis yang benar terlebih dahulu (do the right thing first), atau dalam bahasa agama memilih aktivitas bisnis yang halal (diridhoi Allah) terlebih dahulu merupakan nilai-nilai inti (core values) dan tujuan inti (core purpose) dari bisnis super ekselen.

Karena bagaimanapun luar biasanya suatu bisnis akan menjadi percuma saja, karena  akhirnya nanti akan mendatangkan penyesalan yang tiada tara di akhirat.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

لاَ يُعْجِبْكَ اِمْرُؤٌ كَسَبَ مَالاً مِنْ حَرَامٍ، فَإِنْ أَنْفَقَ مِنْهُ أَوْ تَصَدَّقَ بِهِ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ، وَإِنْ أَمْسَكَ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَإِنْ مَاتَ وَتَرَكَهُ كَانَ زَادَهُ إِلَى النَّارِ

“Jangan membuatmu takjub, seseorang yang memperoleh harta dari cara haram, jika dia infakkan atau dia sedekahkan maka tidak diterima, jika ia pertahankan (simpan) maka tidak diberkahi dan jika ia mati dan ia tinggalkan harta itu maka akan jadi bekal dia ke neraka.” (HR. Ath-Thabrani).

Para pebisnis yang tidak memperhatikan kaidah do the right thing first in business ini pasti akan terjerumus kepada perolehan harta yang haram. Sebagaimana yang dikatakan oleh imam Malik:

مَنْ لاَ يَتَعَلَّمُ اَحْكَامَ الْبَيْعِ فَقَدْ اَكَلَ الرِّبَا شَاءَ اَمْ اَبَى

“Siapa yang tidak mempelajari hukum-hukum jual beli niscaya ia memakan riba, suka atau enggan”

Setiap muslim yang menjalankan bisnis wajib untuk memahami syariah (apa saja yang halal dan haram) dalam setiap transaksi bisnisnya. Oleh karenanya kaidah do the right thing first harus menjadi pedoman utama bagi setiap pengusaha muslim (muslimpreneur).

Pada kaidah do the right thing (efektif) ini, muslimpreneur akan diajak untuk memahami apa saja yang semestinya menjadi ‘ruh’ dan standar bagi bisnis. Ada dua hal yang harus dilakukan untuk membangun kaidah efektif ini, yaitu:

Memahami asas bisnis syariah; Business Core Ideology; Core Purpose & Guiding Belief.
Memahami standar Kualitas Bisnis Syariah; Business Core Values.
Masing-masingnya akan dijelaskan secara rinci pada bab-bab berikutnya dalam buku pertama ini.

2.  Kaidah Do The Thing Right.

Kaidah ini adalah suatu pemahaman untuk melakukan aktivitas bisnis dengan cara yang benar (do the thing right) atau menetapkan teknik-teknik (cara/metode/etc) agar bisnis yang telah benar/halal tersebut memperoleh hasil yang paling optimal dengan perencanaan yang matang dan perhitungan yang cermat. Apa yang dibicarakan pada poin ini adalah terkait dengan sunatullah-nya bisnis. Di sinilah peran dari metode technopreneurship menjadi sangat penting.

Pada aktivitas ini hal yang harus dipahami adalah bagaimana menyusun sebuah perancangan (desain) bisnis yang komprehensif sebelum usaha akan benar-benar dijalankan. Secara sederhana, yang dilakukan pada bagian ini adalah ‘menggambar’ bisnis di atas kertas.

Selengkapnya baca di sini.

Sabtu, 05 November 2011

“Oh Ayah, ayah”

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Oh Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga…

dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain,

jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”


” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

BE FAST...FAST..AND FASTER

1. Pastikan kamu memang pengen melakukannya.
ini yang paling penting gan, yaitu Niat

2. Simplify things.
jangan kebanyakan persiapan ini-itu, langsung mulai aja gan..!

3. Jadikan hal tersebut hal pertama yang kamu lakukan hari ini. sebelum agan mulai membuka email atau internetan..maen ataupun jalan jalan ke mall, lakuin hal tersebut dulu gan

4. “Bersihkan” segala hal yang bisa mengganggu atau mengalihkan perhatianmu.
mematikan internet atau TV gan, jangan memikirkan hal hal yg ga penting .

5. Langsung mulai. Tinggalkan rasa malas dengan langsung memulai mengerjakannya gan..!!

6. Katakan pada diri sendiri kalau kamu hanya akan melakukannya selama sepuluh menit
ini gunanya menyemangati diri sendiri gan..optimis bisa mengerjakan

7. Letakkan hal yang paling malas kamu lakukan di paling atas daftar - kamu akan menunda melakukannya dengan mengerjakan hal lain dalam daftarmu. At least you get some things done.

8. Cari sesuatu dalam hal tersebut yang bisa membuat kamu semangat gan..
agan bisa konsultasi sama teman..atau mengerjakan bersama sama juga bisa gan .

9. Lupakan kesempurnaan. Lakukan saja, dan perbaiki nanti!
ini maksudnya daripada agan ga langsung mulai tp cuma mikir maunya begini maunya begitu tapi tdk buru buru dikerjakan

10. Kalau kamu terus menunda, evaluasi apakah kamu memang ingin melakukannya atau tidak. Mungkin kamu memang tidak harus melakukannya gan

IYA ya LAKUIN..! kalo TIDAK ya ga usah..!