Tampilkan postingan dengan label Ideologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ideologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2008

Bagaimana menegakkan Sistem Islam



Assalamualaikum Wr Wb.

Disela-sela kesibukan aku sempatkan sedikit menjawab dengan sepatah 2 patah kata.

Ada yang bertanya bagaimana caranya menerapkan sistem Islam? pakai cara apa?

Sudah saya jawab bahwa Demokrasi adalah haram, maka cara menegakkan sistem Islam lewat jalaur demokrasi adalah haram dan hanya impian belaka yg tidak pernah dan belum pernah ada buktinya.

Ada 2 cara pengambilalihan kekuasaan.

Pertama:

Dengan jalan kudeta politik, yakni dengan cara merebut kekuasaan dari para penguasa yang menerapkan sistem kufur untuk kemudian diganti oleh sistem Islam. Cara ini oleh sebagian orang dinilai adalah cara yang paling mungkin untuk merebut kekuasaan selain cara demokrasi melalui parlemen. Tetapi akan timbul pertanyaan, apakah cara tersebut tidak menimbulkan perang dan korban jiwa? jawabannya adalah jelas YA, pasti akan menimbulkan perang dan korban jiwa diantara kedua belah pihak yg notabene adalah saudara yg masih seaqidah. Pertanyaan yg paling penting dan mendasar adalah apakah cara kudeta politik merupakan cara yang shahih dan sesuai dengan apa yg dicontohkan Rasulullah? Jawabannya adalah TIDAK. Terus kalau bukan cara kudeta cara apalagi yg bisa dilakukan dan sesuai dengan metode Rasulullah? Jawabannya adalah Cara kedua ......

Kedua:
Selalu saya katakan bahwa saya berjuang untuk memahamkan masyarakat bahwa sistem yg diterapkan sekarang adalah sistem kufur, maka sudah sepantasnya kita memahami kewajiban untuk hidup dibawah naungan sistem Islam yang sudah jelas Rahmatan Lil alamin.
Masyarakat itu ada 2 kelompok, yakni masyarakat umum dan masyarakat yg memiliki pengaruh.
Msayarakat umum itu terdiri dari petani, pedagang, ibu rumahtangga dll, sedangkan Masyarakat yg memiliki pengaruh (ahlul quwah)terdiri dari ulama, pejabat, militer, pemerintah, PNS, dll.
Cara yang ditempuh nabi adalah dengan cara mendakwahi semua masyarakat dari mulai kalangan bawah sampai para pimpinan suku pada masa itu. Akhirnya Rasulullah pun berhasil menegakkan Islam tanpa ada pertumpahan darah pada saat pengalihan kekuasaan di kota Madinah. Para pemimpin suku dengan rela dan tunduk menyerahkan harta dan jiwanya untuk berjuang bersama-sama Rasulullah untuk meneguhkan Islam tanpa mereka dipaksa untuk tunduk. Setelah Rasul berhasil membentuk pemerintahan yang berdaulat maka Rasul membentuk angkatan perag dan membuat aturan2 kenegaraan serta mengirimkan surat keberbagai penjuru wilayah untuk mengabarkan Islam. Setelah negara Islam benar-benar kuat maka ayat2 seruan untuk berjihad dan berperang mulai turun sehingga Rasul pun mempersiapkan diri untuk memerangi kaum kafir untuk melakukan penyerbuan terdahap kaum kafir yg memerangi Islam.

Cara Rasul tersebut diatas adalah cara yg saya dan teman2 saya tempuh untuk menegakkan sistem Islam. walaupun sulit tetapi saya dan teman2 yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan datang. Tidak ada cara lain yg saya yakini sesuai dan seefektif dgn apa yg dilakukan Rasulullah. Saya dan teman2 berjuang memberikan pemahaman kepada umat baik yg tidak memiliki kekuasaan maupun yg berkuasa atau ahul quwah. Saat ini perjuangan saya dan teman2 saya diseluruh antero dunia memiliki satu metode yg sama yakni mengembalikan sistem Islam dengan jalan damai dengan membenturkan pemikiran kufur dgn pemikiran Islam merujuk pada metode yg telah dipraktekkan Rasulullah.

Keberhasilan saya dan teman2 saya di Indonesia adalah menyatukan suara Umat Islam dari berbagai kelompok kedalam wadah Forum Umat Islam, serta mendukung upaya2 MUI dalam menyerang pemikiran kufur yg dilakukan oleh JIL.

Banyak sekali temen2 saya diseluruh dunia yg berjuang tanpa harus berlumuran dengan demokrasi, Insyaallah disetiap negara pasti ada yg berjuang dengan metode yg seperti Rasul contohkan. Perjuangan saya dan temen2 diseantero dunia bukanlah perjuang lokal melainkan perjuangan Internasional dimana Islam tidak memiliki sekat negara yg diaristeki oleh kaum penjajah Barat. Melain Islam harus tegak kembali dibumi Allah tercinta ini.


Banyak slah dan kata mungkin saya ucapakan, untuk itu saya mohon maaf jika ada salah kata. Sekian semoga bermanfaat.


Wassalamulaikum Wr wb.

Arif/ ardobinardi

Sabtu, 11 Oktober 2008

ISLAM: IDEOLOGI PENEBAR RAHMAT

Ada tiga pertanyaan mendasar yang senantiasa ingin dipecahkan oleh manusia menyangkut keberadaannya di dunia ini. Ketiga pertanyaan itu adalah: (1) Darimana asal manusia dan kehidupan ini?; (2) Untuk apa manusia dan kehidupan ini ada?; (3) Mau kemana manusia dan kehidupan setelah ini? Ketika tiga pertanyaan di atas terjawab—terlepas jawabannya benar atau salah—maka seseorang telah memiliki landasan, tuntunan, sekaligus tujuan hidup. Dia akan hidup di dunia ini sesuai dengan landasan itu. Dia akan berbuat dengan standar dan nilai-nilai yang didasarkan pada landasan tersebut. Dia akan menjalankan aktivitas ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain berdasarkan landasan tersebut. Bahkan ia akan mengajak orang/kaum lain agar menjalankan kehidupannya dengan mengikuti landasan tersebut. Pada masa sekarang, pada faktanya, landasan hidup yang digunakan manusia itu adalah ideologi.
Saat ini, hanya ada 3 (tiga) ideologi yang diemban oleh manusia, yakni: (1) Komunisme, yang didasarkan pada akidah materialisme; (2) Kapitalisme, yang didasarkan pada akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan); (3) Islam, yang didasarkan pada akidah Islam.
Ideologi Komunisme menjawab tiga pertanyaan di atas dengan jawaban: bahwa manusia dan kehidupan dunia ini berasal dari materi dan ada dengan sendirinya; manusia hidup di dunia ini untuk mencari kebahagian material; dan kelak manusia akan kembali lagi menjadi materi. Itulah materialisme yang menjadi akidah dari ideologi ini.
Walhasil, ideologi Komunisme menafikan keberadaan Tuhan sama sekali (ateis). Para pengembannya hidup dengan aturan yang dibuat sendiri, dengan standar baik-buruk yang mereka kehendaki. Mereka berbudaya, berpolitik, dan berekonomi untuk mencapai kebahagiaan material. Mereka tidak menyakini adanya hal-hal gaib (Tuhan, ruh, akhirat, pahala-dosa, dll) di luar materi. Jelas ideologi ini—yang menafikan keberadaan Zat sebelum alam dunia ini (Tuhan) dan adanya kehidupan setelah dunia ini (akhirat)—tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki naluri beragama (religiusitas). Ironisnya, religiusitas yang sejatinya mendorong manusia untuk menyucikan dan mengagungkan Tuhan, diarahkan oleh ideologi ini ke penyucian dan pengagungan terhadp sesama manusia, yakni para pemimpin mereka. Wajar jika penyimpangan ideologi ini dari fitrah manusia menciptakan berbagai ketidakpuasan spiritual dan ketidaktenteraman jiwa bagi para pengembannya.
Adapun ideologi Kapitalisme menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban: bahwa manusia dan kehidupan ini diciptakan oleh sang Pencipta, Tuhan. Namun, Tuhan tidak mengurusi urusan yang terkait dengan kehidupan dunia. Tuhan hanya mengatur hubungan antara Diri-Nya dan makhluk-Nya dalam masalah ibadah/keakhiratan semata. Walhasil, ideologi ini percaya bahwa Tuhan itu ada dan kehidupan setelah dunia itu juga ada, namun Tuhan dianggap tidak berperan apa-apa dalam mengatur kehidupan manusia di dunia ini. Dari sini muncullah pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Urusan dunia (ekonomi, politik, sosial, budaya, dll) diatur sepenuhnya oleh manusia, sedangkan aturan yang berhubungan dengan akhirat (tatacara peribadatan) diatur oleh Tuhan. Itulah sekularisme, yang menjadi akidah dari ideologi ini.
Ideologi Kapitalisme pun jelas tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, kita sejatinya memahami bahwa Tuhanlah yang mengetahui persis hakikat manusia ketimbang manusia sendiri. Artinya, Tuhanlah sejatinya yang paling mengetahui aturan-aturan yang terbaik yang harus menjadi pedoman hidup manusia di dunia, bukan manusia yang akalnya sangat terbatas. Terbukti, berbagai peraturan yang dibuat oleh manusia justru menimbulkan banyak persoalan, bahkan bencana, bagi manusia sendiri. Wajar jika ideologi ini pun telah menimbulkan berbagai ketidakpuasan spiritual dan ketidaktenteraman bagi jiwa manusia. Itulah yang terjadi di Barat saat ini.
Sebaliknya, ideologi Islam menjawab tiga pertanyaan di atas dengan jawaban paripurna, memuaskan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia. Ideologi Islam menjelaskan bahwa di balik alam dan kehidupan ini ada sang Pencipta, Tuhan, yang menciptakan manusia dan seluruh alam dari ketiadaan, sekaligus memberikan tugas/amanah kehidupan kepada manusia. Untuk itu, manusia diberi petunjuk/tuntutan hidup berupa aturan-aturan yang jelas, yang bersumber dari wahyu Tuhan, berupa al-Quran dan as-Sunnah. Amanah/tugas inilah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat, sebuah kehidupan lain setelah dunia ini. Itulah pemahaman inti dari akidah Islam, yang menjadi dasar dari ideologi Islam.
Ideologi Islam jelas masuk akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, manusia memang membutuhkan sang Pencipta sebagai Zat Yang layak untuk disembah, sekaligus yang memiliki otoritas untuk mengatur kehidupan manusia di dunia, karena Dialah Yang paling tahu atas apa yang terbaik bagi manusia. Dialah Allah Swt. Karena itu, dalam meniti kehidupannya (dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dll) manusia harus senantiasa menyandarkan diri pada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt., yakni syariat Islam.
Walhasil, ideologi Islam adalah satu-satunya ideologi yang masuk akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Terbukti, dalam sejarahnya, sepanjang ideologi Islam diterapkan dalam realitas kehidupan, sebagaimana pernah terjadi selama berabad-abad pada masa Daulah Islamiyah zaman Nabi saw. dan Kakhilafahan Islam, ideologi Islam mampu menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, keadilan, kemajuan, sekaligus ketenteraman jiwa manusia; sesuatu yang tidak pernah dapat dicapai oleh ideologi Komunisme maupun Kapitalisme.

Islam: Ideologi Penebar Rahmat
Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Tiadalah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS al-Anbiya' [21]: 107).

Ayat di atas merupakan jaminan dari Allah Swt.—yang tidak mungkin meleset—bahwa Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. (yang tidak lain merupakan seperangkat aturan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia), jika diterapkan secara total dan benar, pasti akan membawa rahmat bagi manusia dan seluruh alam. Secara total, artinya hukum-hukum Islam diterapkan secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan, dan secara benar, artinya sesuai dengan mekanisme yang memang telah digariskan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya, yakni melalui institusi negara (Daulah Islamiyah/Khilafah Islamiyah).

MENIMBANG IDEOLOGI
Dengan Nalar dan Fitrah Kemanusiaan
Oleh: Arief B. Iskandar

Pengantar
Secara fitrah, manusia adalah makhluk yang serba terbatas (relativismus uber alles). Keserbaterbatasan manusia ini telah cukup mengantarkan manusia pada situasi dimana ia senantiasa membutuhkan—dan bergantung pada—Zat Yang Tak Terbatas alias Yang Mahamutlak (Absolutismus uber alles); Dialah Tuhan sebagai The Ultimate Reality (Realitas Tertinggi, Wâjib al-Wujûd); Dialah Allah Swt.
Secara fitrah pula, manusia dianugerahi oleh Allah Swt. naluri untuk beragama atau religiusitas (gharîzah at-tadayyun), yang merupakan sesuatu yang sudah built-in dalam dirinya, bahkan sejak sebelum kelahirannya ke alam dunia. Naluri ini telah cukup mendorong manusia untuk melakukan pemujaan terhadap apa yang dianggapnya sebagai The Ultimate Reality (Realitas Tertinggi) itu.
Sayang, dua kenyataan primordial (fitri) ini tidak serta-merta menjadikan manusia "tahu diri"; entah karena mereka tidak berpikir rasional (tidak menggunakan akal) atau karena mereka terlalu percaya diri akibat hegemoni hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Pada saat ini, ketidaktahudirian manusia itu tercermin dalam dua sikap: (1) Pengingkaran secara total (sepenuh hati) terhadap eksistensi Tuhan sang Pencipta (ateisme). Ini tergambar pada manusia yang berpaham materialisme. Materialisme ini kemudian menjadi dasar pijakan ideologi Sosialisme-komunis. (2) Pengingkaran secara "setengah hati" terhadap eksistensi Tuhan. Ini tergambar pada manusia yang berpaham sekularisme, yakni yang mengakui keberadaan Tuhan, tetapi tidak otoritas-Nya untuk mengatur manusia, karena yang dianggap punya otoritas untuk mengatur manusia adalah manusia sendiri. Sekularisme ini kemudian menjadi landasan ideologi Kapitalisme-sekular.
Padahal, alhamdulillah, dengan kasih-sayang-Nya, Allah Swt. telah lama—jauh sebelum kelahiran ideologi Sosialisme-komunis dan Kapitalisme-sekular—menurunkan wahyu-Nya kepada manusia untuk membimbing manusia kembali pada fitrahnya, kembali pada jatidirinya yang asli, yakni sebagai makhluk yang serba terbatas dan memiliki—secara built-in—religiusitas dalam dirinya. Wahyu itu tidak lain adalah Islam, yang akidahnya mengajari manusia untuk meyakini secara total dan sepenuh hati eksistensi Tuhan sekaligus otoritas-Nya untuk mengatur kehidupan manusia. Akidah inilah yang kemudian menjadi basis ideologi Islam sebagai satu-satunya ideologi yang rasional dan sesuai dengan fitrah manusia.
Tulisan berikut tidak lain ingin membuktikan kembali "klaim" di atas—yakni bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi rasional dan sesuai dengan fitrah manusia—dengan cara membandingkan ketiga ideologi di atas, yakni Sosialisme-komunis, Kapitalisme-sekular, dan Islam; melalui perspektif yang paling mendasar: akidah.

Realitas Ideologi
Secara umum, ideologi (Arab: mabda') adalah pemikiran paling asasi yang melahirkan—sekaligus menjadi landasan bagi—pemikiran-pemikiran lain yang menjadi turunannya. (M. Muhammad Ismail, 1958). Pemikiran mendasar dari ideologi ini dapat disebut sebagai akidah ('aqîdah), yang dalam konteks modern terdiri dari: (1) materialisme; (2) sekularisme; (3) Islam. Akidah ini berisi pemikiran mondial dan global mengenai manusia, alam semesta, dan kehidupan dunia; tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; berikut kerterkaitan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan setelah dunia ini. (M. Husain Abdullah, 1990). Akidah ini kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran cabang yang berisi seperangkat aturan (nizhâm) untuk mengatur sekaligus mengelola kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya—politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Akidah dan seluruh cabang pemikiran yang lahir dari akidah itulah yang disebut dengan ideologi. Dengan ungkapan yang lebih spesifik, ideologi (mabda') dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional (yang bersifat mendasar, pen.) yang melahirkan sistem atau seperangkat peraturan tentang kehidupan (An-Nabhani, 1953: 22).
Pada kenyataannya, di dunia saat ini hanya ada tiga ideologi: (1) Sosialisme-komunis, yang lahir dari akidah materialisme; (2) Kapitalisme-sekular, yang lahir dari akidah sekularisme; (3) Islam, yang lahir dari akidah Islam.

Realitas Akidah Materialisme, Sekularisme, dan Islam

Materialisme.
Materialisme adalah akidah yang memandang bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan merupakan materi belaka; materi ini mengalami evolusi dengan sendirinya secara subtansial sehingga tidak ada Pencipta (Khalik) dan yang dicipta (makhluk). Dalam perspektif Karl Marx, peletak dasar ideologi Sosialisme-komunis, alam mengalami evolusi mengikuti hukum gerak materi; alam tidak membutuhkan Akal Holistik (Pencipta) (Ghanim Abduh, 2003: 3). Senada dengan Marx, Lenin, ideolog sekaligus realisator Marxisme, dengan mengutip filosof Heraclitus (540-480 SM), menyatakan, "Alam adalah wujud tunggal yang tidak pernah diciptakan oleh Tuhan atau manusia manapun. Ia telah ada, selalu ada, dan akan selalu ada sebagai api yang terus menyala selama-lamanya." (Vladimir Ilich, 1870-1924).
Oleh karena itu, penganut akidah materialisme pada dasarnya adalah ateis (mengingkari Tuhan). Bahkan, penganut akidah ini memandang bahwa keyakinan terhadap Tuhan (agama) adalah berbahaya bagi kehidupan. Dalam bahasa Lenin, keyakinan terhadap agama adalah "candu" masyarakat dan "minuman keras" spiritual. Dalam manifesto politiknya, Lenin secara ekstrem menyebut agama sebagai salah satu bentuk penindasan spiritual yang, dimana pun ia berada, amat membebani masyarakat (Lenin, 1972: 83-87).
Pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan ini kemudian melahirkan sebuah keyakinan, bahwa dunia ini harus diatur berdasarkan prinsip dialektika materialisme yang melibatkan semua unsur materi, yakni: manusia, alam, dan sarana kehidupan (alat-alat produksi). Dari sini muncullah ideologi Sosialisme-komunis, yang didasarkan pada akidah materialisme, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia; tentu di luar aspek religiusitas dan spiritualitas manusia yang telah diingkarinya.

Sekularisme.
Sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang mengakui eksistensi Tuhan, tetapi tidak otoritas-Nya untuk mengatur manusia. Dengan kata lain, akidah ini mengakui keberadaan agama tetapi tidak otoritasnya untuk mengatur kehidupan. Singkatnya, sekularisme adalah akidah yang menetralkan (memisahkan) agama dari kehidupan.
Secara historis, sekularisme merupakan akidah "jalan tengah" yang lahir pada Abad Pertengahan, sebagai bentuk kompromi para pemuka agama yang menghendaki kehidupan manusia harus tunduk pada otoritas mereka (dengan mengatasnamakan agama), dengan para filosof dan cendekiawan yang menolak otoritas agama dan dominasi para pemuka agama dalam kehidupan. Dengan demikian, para penganut sekularisme sebetulnya tidak mengingkari Tuhan (agama) secara mutlak; mereka hanya menginginkan agar Tuhan (agama) tidak mengatur kehidupan mereka.
Pengingkaran terhadap otoritas Tuhan ini selanjutnya melahirkan sebuah pandangan bahwa manusialah—melalui mekanisme demokrasi—yang berwenang secara mutlak untuk mengatur kehidupannya sendiri secara bebas, tanpa campur tangan Tuhan (agama). Dari sini lahirlah ideologi Kapitalisme-sekular, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia; tentu di luar aspek agama yang telah mereka singkirkan dari kehidupan.
Islam.
Islam adalah akidah yang meyakini eksistensi Tuhan sebagai Pencipta alam, manusia, dan kehidupan ini; sekaligus mengakui bahwa Dialah satu-satunya yang memiliki otoritas untuk mengatur kehidupan manusia. Singkatnya, akidah Islam mengajari manusia tentang keyakinan dan kepasrahan total kepada Tuhan sang Pencipta, yakni Allah Swt.
Keyakinan terhadap eksistensi sekaligus otoritas Tuhan inilah yang kemudian melahirkan keyakinan bahwa Tuhanlah satu-satunya Yang mutlak dan berhak membuat hukum, sementara manusia hanya sekadar pelaksananya saja. Dari sini lahirlah ideologi Islam, yang juga berisi seperangkat aturan dalam berbagai aspek kehidupan manusia; termasuk yang menyangkut aspek religiusitas dan spiritualitas manusia, atau yang menyangkut agama.

Menimbang Ideologi Sosialisme-komunis, Kapitalisme-sekular, dan Islam
Dari paparan di atas, manakah akidah/ideologi yang masuk akal (rasional) dan sesuai dengan fitrah manusia? Jawabannya adalah sebagai berikut:

Sosialisme-komunis.
Dalam perspektif rasio, dengan mengingkari eksistensi sang Pencipta, ideologi ini jelas tidak rasional. Alasannya: (a) Seluruh materi yang ada di dunia ini, termasuk manusia, memiliki keterbatasan dan bergantung pada yang lain. Akal kita yang jujur akan mengakui, bahwa segala yang terbatas ini pasti membutuhkan Zat Yang Tak Terbatas. Itulah Pencipta, Tuhan. (b) Manusia dan alam semesta memiliki keseimbangan, keteraturan, harmoni, dan keindahan yang luar biasa; yang semua itu tidak mungkin terjadi serba kebetulan tanpa ada Zat Yang menciptakan dan mengendalikannya.
Adapun secara fitrah, ideologi ini jelas bertentangan dengan kenyataan bahwa dalam diri manusia ada naluri beragama (religiusitas), yang mendorongnya selalu cenderung untuk melakukan pengagungan/pemujaan kepada Zat Yang lebih tinggi dari dirinya; baik mereka akui atau tidak; baik yang mereka agungkan itu Tuhan Yang sebenarnya atau "Tuhan" palsu. Pada faktanya, orang-orang ateis hanya mengalihkan pengagungan itu—yang seharusnya kepada Tuhan—menjadi kepada manusia.

Kapitalisme-sekular.
Dalam tinjauan nalar, pengakuan terhadap eksistensi Tuhan tetapi tidak otoritasnya untuk mengatur manusia adalah juga tidak rasional. Alasannya: (a) Pengingkaran atas otoritas itu telah melahirkan sikap manusia untuk membuat sendiri aturan bagi kehidupannya. Padahal manusia, sebagai makhluk, pada faktanya tidak bisa memahami hakikat dirinya sendiri. Yang tahu hakikat manusia adalah Pencipta-Nya, yakni Allah Swt. Apabila manusia tidak memahami hakikat dirinya sendiri, apalagi membuat aturan yang terbaik bagi dirinya. (b) Tuhan—dalam hal ini Allah Swt.—telah menurunkan wahyu-Nya, yakni al-Quran, melalui utusan (Rasul)-Nya untuk mengatur kehidupan manusia. Secara rasional, al-Quran dapat dibuktikan kebenarannya sebagai wahyu Allah. Karena itu, menjauhkan otoritas Tuhan Yang Mahatahu untuk mengatur kehidupan manusia adalah tidak rasional.
Adapun secara fitrah, manusia, ketika dibiarkan bebas membuat sendiri peraturan bagi kehidupannya, terbukti melahirkan banyak perbedaan, pertentangan, bahkan konflik. Peraturan yang dibuat juga sering berubah-ubah sesuai dengan kecenderungan dan hawa nafsu manusia. Lebih dari itu, fakta telah membuktikan bahwa peratuan–peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, menciptakan banyak kerusakan, dan menimbulkan banyak kekacauan. Itulah yang terjadi seperti saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada rakyat melalui mekanisme demokrasi.
Islam.
Dalam perspektif akal, pengakuan terhadap eksistensi Tuhan sekaligus otoritas-Nya untuk mengatur kehidupan manusia adalah rasional. Alasannya: (a) Pada faktanya, di samping akal dapat membuktikan secara benar bahwa Tuhan sang Pencipta, yakni Allah Swt. itu ada, akal pun dapat membuktikan bahwa Dia telah menurunkan wahyu-Nya berupa al-Quran kepada Rasul-Nya, yang kebenarannya sebagai wahyu bisa dibuktikan secara rasional. Di dalam al-Quran sendiri tidak akan ditemukan adanya pertentangan antar satu ayat dengan ayat lain, atau antar satu aturan dengan aturan lain, yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Zat Yang Mahakuasa. (b) Sepanjang aturan-aturan al-Quran diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia, terbukti bahwa ia mendatangkan rahmat bagi umat manusia seluruhnya. Ini adalah fakta sejarah yang pernah terjadi dan berjalan selama-berabad-abad sejak zaman Nabi saw. mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah hingga keruntuhan Kekhilafahan Islam terakhir di Turki, yang diawali oleh banyaknya penyimpangan terhadap al-Quran yang dilakukan penguasa.
Adapun secara fitrah, pengakuan atas eksistensi Tuhan sekaligus otoritas-Nya untuk mengatur manusia sesuai dengan fitrah manusia yang serba terbatas, serba kurang, dan serba lemah; yang menjadikannya butuh pada yang lain. Keserbaterbatasan, keserbakurangan, dan keserbalemahan manusia ini pada faktanya membuktikan bahwa manusia membutuhkan berbagai peraturan bagi kehidupannya yang tidak berasal dari dirinya, tetapi bersumber dari al-Khalik, Tuhan Pencipta alam.

Kesimpulan
Walhasil, dari paparan di atas, secara nalar (rasio, akal) maupun fitrah, juga berdasarkan realitas sejarah manusia, terbukti bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang rasional dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebaliknya, Sosialisme-komunis dan Kapitalisme-sekular adalah ideologi yang tidak rasional dan bertentangan dengan fitrah manusia; di samping terbukti dalam sejarah telah menimbulkan banyak ekses negatif, kerusakan, dan kekacauan.
Karena itu, dalam momentum Idul Fitri ini, yang berarti kembali ke fitrah, sudah selayaknya kaum Muslim segera kembali menerapkan semua aturan-aturan Islam (syariah), yang memang telah sesuai dengan fitrah manusia, dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, sudah selayaknya kaum Muslim segera meninggalkan berbagai aturan yang berasal dari ideologi Sosialisme-komunis maupun Kapitalisme-sekular, yang nyata-nyata bertentangan dengan fitrah manusia, dan terbukti banyak menyengsarakan kehidupan umat manusia. Keengganan manusia untuk diatur dengan aturan-aturan Allah hanyalah merupakan bukti kesombongan, kelancangan, dan kekurangajaran dirinya di hadapan Penciptanya, Allah Swt., Zat Yang Mahatahu atas segala sesuatu. Jika kita tetap bertahan untuk berkubang dalam aturan-aturan buatan manusia dan tetap enggan diatur dengan aturan-aturan Allah, layaklah kita merenungkan kembali firman Allah Swt. berikut:

]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).

Ya, sekali ini kita patut merenungkan: Adakah hukum/aturan yang lebih baik dibandingkan dengan hukum/aturan-aturan Allah?! Apakah hukum/aturan-aturan yang berasal dari ideologi Sosialisme-komunis dan Kapitalisme-sekular—yang notabene buatan manusia yang serba terbatas, serba kurang, dan serba lemah—yang lebih baik ataukah hukum/aturan-aturan Islam yang notabene buatan Allah Pencipta manusia Yang Mahatahu atas segala sesuatu?!
Lalu mengapa kita tetap betah berkubang dalam sistem/aturan yang berasal dari Kapitalisme-sekular yang terbukti buruk ini dan tidak segera beranjak menuju sistem/aturan yang bersumber dari ideologi Islam sebagai ideologi penebar rahmat?! Telah butakah mata dan kalbu kita?! Na‘ûdzu billah mindzâlik! []

Daftar Bacaan:

‘Abduh, Ghanim, 1963, Naqd al-Isytirâkiyah al-Marksiyah, t.p., Al-Quds.
Abdullah, Muhammad Husain, 1990, Dirâsât fî al-Fikr al-Islâmi, Darul Bayariq, Beirut.
An-Nabhani, Taqiyuddin, 1953, Nizhâm al-Islâm, t.p., al-Quds.
Ismail, Muhammad Muhammad,. 1958, Al-Fikr al- Islâmi, t.p, Kairo.
Lenin, Collected Works, Progress Publishers, Moscow, 1972. Cet. ke-3.













MEMBUKTIKAN KEBENARAN ISLAM "ADANYA TUHAN, RASUL DAN AL QURAN"

Alam semesta, Manusia, dan Kehidupan; Pemecahan yang cemerlang dari ketiga hal ini akan menghasilakan aqidah, dan menjadi landasan berpikir yang akan melahirkan setiap pemikiran cabang tentang prilaku manusiadi dunia ini serta peraturan-peraturannya. Isalm menuntaskan problematika pokok tsb dan memecahkan untuk manusia dengan cara yang sesuai dengan fitrahnya, memuaskan akal, serta menentramkan jiwa. Jika kita memeluk Islam maka kita harus benar-benar yakin yang keyakinan tersebut muncul dari akal. Oleh karena itu, Islam dibangun diatas satu dasr, yakni aqidah. Aqidah menjelaskan bahwa dibalik alam semesta, manusia, dan kehidupan, terdapat Pencipta (Al-Khaliq) yang telah menciptakan ketiganya dan segala sesuatunya. Dialah Allah SWT. Pencipta telah menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Ia bersifat wajibul wujud, wajid adanya, sebab bila tidak demikian, berarti Ia tidak mampu menjadi Khaliq. Ia bukanlah makhluk, karena sifat-Nya sebagai Pencipta memastikan dirinya bukan makhluk.

Membuktikan Allah SWT sebagai Pencipta
Bukti bahwa bahwa segala sesuatu mengahuskan adanya Pencipta yang menciptakan adalah; Bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal terbagi dalam tiga unsure, Yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Ketiga unsure tersebut bersifat terbatas, lemah, serba kurang, dan saling membutuhkan satu sama lain.Misalnya manusia. Manusia terbatas sifatnta, ia tumbuh dan berkembang sampai pada bats tertentu yang tidak dapat dilampauinya lagi (mati). Ini menunjukan bahwa manusia terbatas. Hidup juga terbatas yakni dengan kematian, ini membuktikan bahwa hidup bersifat terbatas. Alam semesta merupakan himpunan dari benda-benda angkasa, yang sifat bendanya memiliki keterbatasan (bisa meledak, bisa dijangkau manusia,dll). Himpunan dari segala sesuatu yang terbatas tentu terbatas pula sifatnya. Jadi ketiga unsure diatas terbukti terbatas.

Segala sesuatu yang bersifat terbatas, dapat disimpulakn bahwa semuanya tidak azali. Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), tentunya tidak memiliki keterbatasan. Dengan demikian segala sesuatu yang terbatas pasti diciptakan oleh “Sesuatu yang lain” inilah yang disebut Al-Khaliq (Pencipta). Dialah yang menciptakan manusia, hidup, dan alam semesta.

Membuktikan keberadaan Pencipta akan kita dapati tiga kemungkinan. Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. Kedua, Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Ketiga, Ia bersifat azali dan wajibul wujud. Kemungkinan pertama bahwa Ia diciptakan oleh yang lain adalah kemungkinan yang salah, tidak dapat diterima akal. Kemungkinan kedua, yang menyatakan bahwa Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Jika demikian berarti Dia sebagi makhluk dan sekaligus Pencipta (Khaliq), sesuatu yang tidak mungkin bisa diterima akal, karena makluk bersifat terbatas sedangkan Pencipta bersifat azali (tidak berawal dan berakhir). Oleh karena itu, Al-Khaliq harus bersifat azali dan wajibul wujud. Dialah Allah SWT.
Al Quran mengajak manusia untuk membuktikan Allah SWT dengan mengamati ciptaanya. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal (QS. Ali imran: 190)

(Dan) Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakan-Nya langit dan bumi serta berlain-lainya bahasa dan warna kulitmu (QS. Ar Rum: 22)

Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptaka? Dan langit, bagaiman ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dia dihamparkan (QS. Al Ghasyiyah: 17-20)

Hendaknya manusia memperhatikan dari apa ia diciptakan? Dia diciptakan dari air memancar, yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dengan tulang dada berperempuan (QS. At Thariq: 5-7)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Silih bergantinya malam da siang. Berlayarnya bahtera dilaut yang membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering). Dan Ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Dan ppengisaran air dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya (semua itu) terdapat tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (QS. Al Baqarah: 164)

Tuntas sudah membuktikan Allah SWT sebagai Tuhan pencipta alam semesta. Islam tidak membiarkan perasaan hati sebagai satu-satunya jalan menuju iman yang fitri. Iman yang muncul dari hati akan bersifat riskan dan sementara bila tidak dimantapkan dengan proses berpikir bahwa Islam benar-benar sesuai dengan akal manusia, fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. kendati wajibnya manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Allah SWT, namun tidak mungkin ia dapat menjangkau apa yang berada di luar kemampuan indera dan akalnya. Sebab manusia terbatas, begitu pula akalnya. Maka perlu diingat bahwa akal tidak mampu memahami Zat Allah dan hakekat-Nya, sebab Allah SWT berada di luar ketiga unsure pokok (alam semesta, manusia, dan hidup) tadi. Ketiga unsure tadi berada dalam jangkauan akal manusia, sedangkan hakekat Allah berada di luar unsure pok tersebut. Sehingga mustahil manusia untuk dapat menjakau hakikat Allah, sebab akal manusia tidak mungkin memahami hakekat yang ada diluar bats kemampuanya. Ketidakmampuan manusia menjangkau hakekat Allah justru dapat kita jadikan pijakan/alasan/landasan dalam mengimani keberadaan Allah sebagai Tuhan alam semesta yang memiliki kemampuan yang sangatttttttttt tidak terbatas. Bila tuhan bisa kita indera layaknya agama-agama lain dengan patung-patungnya dan segala sesuatunya, berarti tuhan bersifat terbatas karena mampu dijangkau oleh manusia.

Membuktikan bahwa manusia membutuhkan Rasul
Faktanya bahwa manusia adalah makhluk Allah SWT. Beragama adalah sesuatu yang fitri pada diri manusia, karean termasuk salahsatu naluri yang ada pada diri manusia (walaupun kaum ateis mengatakan tidak mengakui (mengagungkan) tuhan tetapi faktanya adalah mereka tetap mengagung-agungkan pemimpinya, hal ini membuktikan bahwa manusia memiliki naluri untuk mensucikan (menyembah/mengagungkan, dsb) sesuatu yang dianggap lebih tinggi derajatnya). Aktivitas mensucikan Penciptanya dinamakan ibadah, yang berfungsi sebagai tali penghubung antara manusia dengan penciptanya. Apabila hubungan ini dibiarkan begitu saja tanpa aturan, tentu akan menimbulkan kekacaun beribadah, dan bahwakan bisa menyebabkan penyimpangan dalam penyembahan kepada selain Pencipta. Jadi dibutuhkan aturan yang benar yang tidak boleh datang dari manusia tetapi harus datang dari sang Khaliq. Karena aturan ini haurs sampai ketangan manusia maka tidak boleh tidak harus ada para Rasul yang menyampaikan agama Allah kepada umat manusia.

Bukti lain kebutuhan manusia terhadap Rasul adalah bahwa pemuasan manusia terhadap tuntutan gharizah (naluri) serta kebutuhan jasmani, adalah keharusan yang sangat diperlukan. Pemuasan yang tanpa aturan yang benar akan menjurus pada pemuasan yang salah dan menyimpang. Pemahaman manusia pasti akan selalu terjadi perbedaan, perselisihan, pertentangan, dan dipengaruhi lingkungan tinggalnya. Sehingga apabila manusia dibiarkan membuat aturan sendiri, tentu hal tersebut akan terjadi dan akhirnya menimbulkan kesengsaraan manusia itu sendiri. Maka aturan tersebut harus datang dari Allah SWT melalui para Rasul.

Membuktikan bahwa Al Quran datang dari Allah.
Faktanya bahwa Al Quran adalh sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasul Muhammad SAW. Dalam menentukan dari mana asal Al Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan. Pertama, kitab itu adalh karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad. Ketiga, berasal dari Allah SWT. Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga itu. Sebab Al quran berciri khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya. Kemungkinan pertama, Al Quran adalah karangan orang Arab, tidak dapat dierima. Sebab Al Quran sendiri menantang mereka untuk membuat karya yang serupa:

Katakanlah: Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya (QS. Hud: 13)

Katakanlah: (Kalau benar apa yang kamu katakana), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya (QS. Yunus: 38)

Orang-orang Arab telah berusaha keras mencobanya, tetapi tetap tidak berhasil. Ini membuktikan bahwa Al Quran bukan karangan dari mereka. Kemungkinan kedua, yang mengatakan bahwa Al Quran dari Muhammad, juga tidak benar. Karena Muhammad adalah bagian dari orang Arab, dan telah terbukti bahwa bangsa Arab tidak mampu mengahasilkan karya yang serupa. Jadi jelas bahwa Al Quran bukan karangan Muhammad. Untuk membuktikan hal ini maka cobalah anda baca hadist-hadist shahih yang berasal dari Muhammad, maka tidak ada satu hadist pun yang gaya bahasanya mirip Al Quran. Hal itu mempertegas bahwa Al Quran bukan karangan Muhammad. Ada satu tuduhan bahwa Al quran itu disadur oleh Muhammad dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan tersebut ditolak keras oleh Allah SWT dalam firmannya:

(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: Bahwasannya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘Ajami (non-Arab), sedangkan Al Quran itu dalam bahasa arab jelas (QS. An Nahl: 103)
Jadi terbuktilah bahwa Al Quranadakah kalamullah, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya.

Bukti bahwa Muhammad adalah Rasul Allah
Adalah karena Muhammad SAW adalah orang yang membawa Al Quran –yang merupakan kalammulah dan syariat Allah, serta tidak ada yang membawa syariat-Nya melainkan para Nabi dan Rasul- maka berdasarkan dalil aqli (akal) dapat diyakini secara pasti bahwa Muhammad SAW itu adalah seorang Nabi dan Rasul.

Menganalisa Tiga Ideologi Di Dunia (Sosiali-Komunis, Sekuler-Kapitalis, dan Isalm)

Lain kesempatan –Bersambung_


Saya Tulis Rangkum dari Buku Peraturan Hidup Dalam Islam karangan Taqiyudin an Nabhani

Arif Widodo





Menganalisa 3 Ideologi Dunia

Tulisan berikut tidak lain ingin membuktikan kembali "klaim" sebelumnya—yakni bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi rasional dan sesuai dengan fitrah manusia—dengan cara membandingkan ketiga ideologi di atas, yakni Sosialisme-komunis, Kapitalisme-sekular, dan Islam; melalui perspektif yang paling mendasar: akidah.
Ideologi (mabda) adalah Iaqidah Aqliyah yang melahirkan peraturan. Sedangkan aqidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan hidup; dan tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan
Saat ini, hanya ada 3 (tiga) ideologi yang diemban oleh manusia, yakni:
1. Sosialis-Komunisme, yang didasarkan pada akidah materialisme;
2. Sekuler-Kapitalisme, yang didasarkan pada akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan);
3. Islam, yang didasarkan pada akidah Islam.
Ada tiga pertanyaan mendasar yang senantiasa ingin dipecahkan oleh manusia menyangkut keberadaannya di dunia ini. Ketiga pertanyaan itu adalah:
(1) Darimana asal manusia dan kehidupan ini?;
(2) Untuk apa manusia dan kehidupan ini ada?;
(3) Mau kemana manusia dan kehidupan setelah ini?


Menjawab pertanyaan dengan Ideologi Sosialis-Komusisme
Ideologi Komunisme menjawab tiga pertanyaan di atas dengan jawaban: bahwa manusia dan kehidupan dunia ini berasal dari materi dan ada dengan sendirinya; manusia hidup di dunia ini untuk mencari kebahagian material; dan kelak manusia akan kembali lagi menjadi materi. Itulah materialisme yang menjadi akidah dari ideologi ini.
Walhasil, ideologi Komunisme menafikan keberadaan Tuhan sama sekali (ateis). Para pengembannya hidup dengan aturan yang dibuat sendiri, dengan standar baik-buruk yang mereka kehendaki. Mereka berbudaya, berpolitik, dan berekonomi untuk mencapai kebahagiaan material. Mereka tidak menyakini adanya hal-hal gaib (Tuhan, ruh, akhirat, pahala-dosa, dll) di luar materi. Jelas ideologi ini—yang menafikan keberadaan Zat sebelum alam dunia ini (Tuhan) dan adanya kehidupan setelah dunia ini (akhirat)—tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki naluri beragama (religiusitas). Ironisnya, religiusitas yang sejatinya mendorong manusia untuk menyucikan dan mengagungkan Tuhan, diarahkan oleh ideologi ini ke penyucian dan pengagungan terhadp sesama manusia, yakni para pemimpin mereka. Wajar jika penyimpangan ideologi ini dari fitrah manusia menciptakan berbagai ketidakpuasan spiritual dan ketidaktenteraman jiwa bagi para pengembannya.

Menjawab pertanyaan dengan Ideologi Sekuler-Kapitalisme
Adapun ideologi Kapitalisme menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban: bahwa manusia dan kehidupan ini diciptakan oleh sang Pencipta, Tuhan. Namun, Tuhan tidak mengurusi urusan yang terkait dengan kehidupan dunia. Tuhan hanya mengatur hubungan antara Diri-Nya dan makhluk-Nya dalam masalah ibadah/keakhiratan semata. Walhasil, ideologi ini percaya bahwa Tuhan itu ada dan kehidupan setelah dunia itu juga ada, namun Tuhan dianggap tidak berperan apa-apa dalam mengatur kehidupan manusia di dunia ini. Dari sini muncullah pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Urusan dunia (ekonomi, politik, sosial, budaya, dll) diatur sepenuhnya oleh manusia, sedangkan aturan yang berhubungan dengan akhirat (tatacara peribadatan) diatur oleh Tuhan. Itulah sekularisme, yang menjadi akidah dari ideologi ini.
Ideologi Kapitalisme pun jelas tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, kita sejatinya memahami bahwa Tuhanlah yang mengetahui persis hakikat manusia ketimbang manusia sendiri. Artinya, Tuhanlah sejatinya yang paling mengetahui aturan-aturan yang terbaik yang harus menjadi pedoman hidup manusia di dunia, bukan manusia yang akalnya sangat terbatas. Terbukti, berbagai peraturan yang dibuat oleh manusia justru menimbulkan banyak persoalan, bahkan bencana, bagi manusia sendiri. Wajar jika ideologi ini pun telah menimbulkan berbagai ketidakpuasan spiritual dan ketidaktenteraman bagi jiwa manusia. Itulah yang terjadi di Barat saat ini.

Menjawab pertanyaan dengan Ideologi Islam
Sebaliknya, ideologi Islam menjawab tiga pertanyaan di atas dengan jawaban paripurna, memuaskan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia. Ideologi Islam menjelaskan bahwa di balik alam dan kehidupan ini ada sang Pencipta, Tuhan, yang menciptakan manusia dan seluruh alam dari ketiadaan, sekaligus memberikan tugas/amanah kehidupan kepada manusia. Untuk itu, manusia diberi petunjuk/tuntutan hidup berupa aturan-aturan yang jelas, yang bersumber dari wahyu Tuhan, berupa al-Quran dan as-Sunnah. Amanah/tugas inilah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat, sebuah kehidupan lain setelah dunia ini. Itulah pemahaman inti dari akidah Islam, yang menjadi dasar dari ideologi Islam.
Ideologi Islam jelas masuk akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, manusia memang membutuhkan sang Pencipta sebagai Zat Yang layak untuk disembah, sekaligus yang memiliki otoritas untuk mengatur kehidupan manusia di dunia, karena Dialah Yang paling tahu atas apa yang terbaik bagi manusia. Dialah Allah Swt. Karena itu, dalam meniti kehidupannya (dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dll) manusia harus senantiasa menyandarkan diri pada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt., yakni syariat Islam.
Walhasil, ideologi Islam adalah satu-satunya ideologi yang masuk akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Terbukti, dalam sejarahnya, sepanjang ideologi Islam diterapkan dalam realitas kehidupan, sebagaimana pernah terjadi selama berabad-abad pada masa Daulah Islamiyah zaman Nabi saw. dan Kakhilafahan Islam, ideologi Islam mampu menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, keadilan, kemajuan, sekaligus ketenteraman jiwa manusia; sesuatu yang tidak pernah dapat dicapai oleh ideologi Komunisme maupun Kapitalisme.
Islam: Ideologi Penebar Rahmat
Allah Swt. berfirman:

”Tiadalah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS al-Anbiya' [21]: 107).
firman Allah Swt. berikut:

”Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?!” (QS al-Maidah [5]: 50).

Selanjutnya tulisan Metode menerapkan ideologi